Search

+
belajar-coding
3 Alasan Coding Menjadi Pelajaran Wajib Untuk Generasi Z

Apakah Anak Anda termasuk generasi Z? Mereka adalah sebuah generasi yang lahir di tahun 1995 – 2014. Mereka lahir dan tumbuh dikelilingi teknologi canggih yang meningkat pesat dalam kurun waktu 20 tahun belakang ini. Mereka dengan cepat memahami penggunaan rangkaian elektronik. Sedikit klik di sana dan di sini, mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Anak-anak yang terpapar dengan teknologi dan akrab dengan apps hampir 12 jam sehari ini tentu perlu memahami pembuatan aplikasi yang menjadi otak teknologi yang ada. Mereka perlu mempelajari bahasa komputer untuk mengarungi gelombang era digital ini. Bagaimana caranya? Mereka perlu belajar Coding.

Alasan Gen Z perlu belajar Coding

1. Memiliki pola pikir komputerisasi

Pola pikir komputerisasi adalah sebuah kemampuan yang kudu dimiliki oleh orang-orang di abad pertengahan 21 ini. Dia setingkat dengan kemampuan membaca, menulis dan matematika. Pola pikir yang satu ini bisa dibentuk dengan belajar pemrograman. Sekalipun coding atau pemrograman sangat disanjung oleh semua orang di dunia ini karena manfaatnya, Anda sebagai orang tua tidak mengerti kaitannya dengan anak.

Belajar pemrograman diibaratkan dengan belajar alat masuk. Ketika anak belajar alat musik, bukan berarti dia harus memiliki cita-cita menjadi musisi profesional. Tetapi orang tua tahu kalau alat musik bisa mengembangkan kecerdasan pendengaran, apresiasi seni, koordinasi mata tangan dan kerja sama. Maka belajar coding untuk anak melatih pola pikir komputerisasinya.

Konklusinya, Anak Anda tidak diajarkan untuk menjadi Zuckerberg atau Gates, namun mengajarkan dia cara berpikir yang baru. Kegiatan pemrograman ini akan mempertajam keahlian Gen Z dalam menyelesaikan masalah secara logis dan analisa karena dia kudu detil, tepat dan sabar. Mereka juga akan lebih menghargai teknologi dan kompleksnya dunia digital serta membangun rasa percaya diri.

Manfaat coding ini sudah mau dilirik oleh beberapa sekolah-sekolah internasional Indonesia dan menjadi bagian dari kurikulumnya. Sekalipun mereka belum melihatnya sebagai kesetaraan dengan ilmu-ilmu lainnya seperti bahasa, matematika dan lain-lain.

2. Meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan kerjaan

Beberapa ahli sudah memperkirakan kalau di tahun 2020, permintaan pasar akan pegawai-pegawai yang mengerti ilmu komputer akan meningkat pesat hingga 1,4 juta. Namun hanya sedikit yang memiliki kualifikasi untuk mendapatkannya. Selain itu, hampir semua pekerjaan berhubungan dengan teknologi.

Kalau anak Anda tidak berkeinginan untuk menjadi programmer, bisa saja dia perlu menjadi orang yang mampu bekerjasama dengan mereka. Bahasa dan pola pikir komputerisasi pun perlu dimengerti agar lancar teamwork-nya.

Misalkan, anak Anda bercita-cita menjadi seorang dokter bedah. Saat ini banyak sekali dokter bedah yang menggunakan bantuan alat komputer dalam meja operasi. Alasannya, teknik pembedahannya bisa lebih rapi atau mereka bisa melihat kondisi lebih jelas. Dalam kesehariannya, mereka juga bisa menyimpan file-file pasien yang mereka tangani di komputer dan lain sebagainya.

Anda bisa melihat kalau ilmu komputer telah masuk hampir ke dalam semua sektor kehidupan. Jadi pola pikir komputerisasi perlu dipahami oleh anak-anak senang bermain gadget ini.

3. Membantu mereka menjadi creator dibanding penikmat

Salah satu masalah yang sering terjadi pada anak-anak di Indonesia adalah mereka lebih senang konsumsi dibanding menghasilkan. Belajar coding baik melalui kursus atau sendiri tentu membuat anak-anak generasi baru ini memiliki keinginan untuk membangun sesuatu dibanding hanya menerima atau belanja.

Orang tua yang bijak pastinya lebih senang melihat hasil karya anak dibanding hanya memenuhi kebutuhan anak. Jadi belajar programming akan meningkatkan produktifitas anak dalam menghasilkan karya-karya yang berguna untuk orang lain. Alhasil, mereka pun bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Begitulah alasan coding perlu menjadi mata pelajaran wajib Generasi Z. Dan mereka sudah bisa belajar sejak SD. Jadi anak bisa memiliki pola pikir komputerisasi dan logika yang kuat sejak dini.

Posted in: Coding Anak

Comments (One Response )

Trackbacks/Pingbacks

  1. Kenali Profesi Di Industri Video Game Untuk Mendukung Cita-Cita Anak - iBig Academy - 21 Desember 2018

    […] Anak-anak Gen Z sangat familiar dengan yang namanya video game. Mereka jauh lebih mudah mendapatkannya dibanding generasi-generasi pendahulunya. Bila generasi pendahulu kudu membeli console agar bermain, generasi Z cukup memiliki gadget dan mengunduh game. Tidak heran kalau cita-cita anak di iBIG Academy adalah ingin membuat video game. […]

Tinggalkan Balasan

×

Hello!

Click contact kami dibawah ini untuk whatsapp atau anda bisa email kami ke hello@ibigacademy.com

× Contact us