Search

+
Ingin Melatih Logika dan Pola Pikir Kritis Anak
Ingin Melatih Logika dan Pola Pikir Kritis Anak?

Anda mungkin mengira anak kecil secara naluri memiliki logika dan pemikiran kritis. Lagi Pula banyak orang pintar yang mampu berpikir secara logis tanpa pendidikan atau instruksi formal untuk meningkatkan logika. Namun, menurut suatu penelitian, justru anak mampu memahami logika dan pola pikir kritis ketika ada dorongan. 

Penelitian juga berhasil buktikan bahwa murid cenderung lebih baik dalam mengatasi masalah ketika Anda, sebagai orang tua, mengajari beberapa aspek berikut:

  1. Analisa analogi 
  2. Menciptakan kategori dan klasifikasi sesuai kebutuhan
  3. Identifikasi informasi yang relevan 
  4. Konstruk dan memahami argumentasi deduktif yang valid 
  5. Tes hypothesis
  6. Memahami informasi hoax berdasarkan akal sehat 
  7. Membedakan antara bukti dengan interpretasi suatu bukti

Apakah pelatihan logika pada daftar diatas akan menghambat kreatifitas anak? Tidak sama sekali. Pola pikir kritis berdasarkan rasa penasaran, fleksibilitas, dan menjaga pikiran tetap terbuka. Sedangkan, kemampuan menyelesaikan masalah yang kreatif justru berkaitan dengan pola pikir kritis. 

Faktanya, instruksi yang eksplisit dalam pemikiran kritis membuat anak lebih pintar, independen, dan lebih kreatif.

Manfaat melatih logika anak untuk pola pikir kritis

Ternyata, hanya dengan menanamkan kebiasan berpikir logis dan kritis bisa meningkatkan kemampuan inovatif dan intelligence quotient (IQ).

Richard Herrnstein dan sesama rekan peneliti mengadakan suatu eksperimen yang melibatkan 400 anak di sekolah menengah pertama. Setiap anak diberikan instruksi eksplisit yang bisa memicu pemikiran kritis, suatu program yang meliputi tes hipotesa, logika dasar, dan evaluasi argumen kompleks, inovasi, pembuat keputusan dan topik lain. 

Setelah 45 menit berkutat dengan program tersebut, setiap anak mengikuti tes IQ. Memang ada banyak sekali jenis tes IQ, khusus untuk tes IQ Herrnstein menggunakan the Otis-Lennon School Ability Test dan Raven Progressive Matrices. Projek yang bertujuan mencari apakah ada manfaat logika berpikir kritis dengan IQ terbukti efektif. 

Herrnstein menyatakan, dibanding murid yang tidak mengikuti program IQ, mereka mengalami peningkatan dalam sial bahasa, inovasi, dan bahkan, IQ. Pada banyak kasus melatih logika kritis anak membantu kemampuan penyelesaian masalah anak. 

Pada penelitian oleh Anat Zohar dan rekan, menguji kemampuan analisa dari 678 anak yang duduk di sekolah sekolah menengah pertama. Kemudian secara acak, Anat memberi murid pembelajaran seputar pola pikir kritis logis sebagai bagian dari kurikulum biologi. 

Murid yang terlibat dalam grup eksperimen secara eksplisit dilatih untuk menyadari berita bohong berdasarkan logika, analisa argumentasi, tes hipotesis, menyadari kebohongan menggunakan logika, analisa argumentasi, tes hipotesis, dan membedakan antara interpretasi fakta dan bukti. 

Semua murid yang termasuk dalam grup yang diamati belajar biologi dengan buku yang sama, tanpa pengajaran khusus tentang pola pikir logis kritis. 

Pada akhir program, murid di tes lagi. Murid yang mendapat pelatihan tentang pemikiran kritis menunjukkan perkembangan yang pesat dalam kemampuan analisa dan bukan hanya dalam persoalan biologi. 

Apa yang Bisa Orang Tua dan Guru Lakukan untuk Melatih Logika Anak?

Anda tentu telah memahami pentingnya mengajarkan logika pada anak sebelum mereka beranjak dewasa. Tapi, bagaimana caranya adalah pertanyaan yang lain. Masalah cara mengajari logika anak tentu sangat luas, tapi ada beberapa hal dasar yang harus ditanamkan dalam otak Ayah Bunda demi perkembangan logika dan kemampuan berpikir kritis anak:

  1. Mulai sejak dini
    Anak yang masih muda belum tentu siap menerima pelajaran formal mengenai logika. Tapi, mereka bisa dilatih untuk memahami sebab akibat dalam membuat kesimpulan. Anda juga bisa mendorong anak untuk evaluasi sudut pandang orang lain. Penasaran harus mulai dari mana? 
  2. Hindari memaksakan doktrin pada anak
    Setiap anak punya cara tersendiri dalam melakukan suatu hal. Hindari memberi tahu bagaimana seorang anak harus bicara atau bersikap. Bila Anda ingin memberi doktrin tertentu, berikan alasan dan argumentasi yang kuat.  
  3. Dorong anak untuk bertanya
    Kebiasaan buruk di Asia adalah tata cara pendidikan yang pasif dimana anak tidak banyak bertanya. Padahal orang tua dan guru seharusnya mendorong rasa penasaran dalam pembelajaran. Jika sesuatu tidak nampak rasional bagi si kecil, seharusnya anak didorong untuk menyatakan keberatan atau kesulitan dalam memahami. 
  4. Minta Anak membangun lebih dari satu solusi
    Sekali jawab langsung benar memang rasanya enak. Tapi, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan satu metode setiap waktu. Ketika seorang anak memahami bahwa ada lebih dari satu cara dalam menyelesaikan masalah, kemampuan penyelesaian masalah jadi lebih baik.

    Salah satu cara melatih pengembangan alternatif solusi ada pada kelas koding iBiG Academy. Dimana permainan asah otak memiliki lebih dari satu cara penyelesaian. Dikemas dalam permainan yang menyenangkan sehingga anak betah dalam belajar. 

Metode manapun yang Anda pilih tidak ada yang salah. Toh ada banyak cara untuk melatih logika otak kiri untuk berpikir kritis. Selama anak bahagia dan Anda sama sekali tidak memaksa bagaimana anak harus bersikap, harusnya tidak ada masalah. Bagaiamana? Anda sudah lebih bersemangat dalam mendorong kemampuan berpikir kritis logis si kecil? Ayo mulai dari sekarang!

Posted in: Coding Anak

Comments (No Responses )

No comments yet.

Tinggalkan Balasan